Beranda / Program Kegiatan / Konservasi Koleksi

Konservasi Koleksi


Konservasi adalah suatu tindakan pelestarian dengan cara memelihara dan mengawetkan benda cagar budaya sebagai upaya untuk menghambat dan menghindari terjadinya kerusakan dan pemusnahan.

Konservasi koleksi museum artinya melakukan kegiatan untuk melestarikan nilai-nilai yang terkandung pada koleksi museum, yaitu suatu benda cagar budaya (yang sudah menjadi milik museum) yang memiliki nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, nilai historis, nilai kesenian, teknologi dan sebagainya.

Setiap benda budaya yang menjadi koleksi museum disimpan dan dirawat oleh museum supaya koleksi tersebut dapat dimamfaatkan oleh masyarakat pengunjung museum untuk berbagai keperluan, sepert pendidikan, penelitian, pengembangan nilai-nilai budaya warisan  bangsa bahkan sebagai sarana rekreasi.

Museum sebagai salah satu unit pelaksana teknis yang mengelola benda cagar budaya warisan budaya  bangsa, fungsi pelestarian dan perlindungan terkait erat dengan fungsi dan peran museum sebagai lembaga pelestarian warisan budaya bangsa sebagai bagian asset yang tiada ternilai, menyimpan dan menyajikannya untuk kepentingan masyarakat dalam wujud koleksinya.

Konservasi bertujuan melakukan upaya perawatan, pemeliharaan, pengawetan, perlindungan, perbaikan dan pengamanan terhadap koleksi museum agar terhindar dari proses kerusakan akibat dari berbagai faktor penyebab, antara lain : Faktor alam (iklim, cuaca, kelembaban,  cahaya, bencana alam), dan faktor makhluk hidup (vandalisme, kriminalisme, insect, rayap, jamur, lumut, fungsi dsb). Dengan demikian diharapkan tindakan konservasi dapat memperpanjang usia koleksi atau menghambat proses kerusakan lebih lanjut pada koleksi museum.

Jenis kerusakan yang sering terjadi pada koleksi museum pada umumnya sangat tergantung pada komposisi penyusun koleksi itu sendiri.  Ditinjau dari komposisi penyusunannya, koleksi museum tergolong pada 2 (dua) kelompok :

1. Koleksi Organik

Koleksi yang berasal dari makhluk hidup, yang terdiri dari unsur-unsur C, H dan O.

Koleksi museum yang tergolong dalam koleksi organik yaitu  tekstil, kertas, kayu, gading, lontar, tanduk,opset, tulang dsb.

2. Koleksi An- Organik

Koleksi yang berasal dari unsur-unsur mineral, diantaranya  logam (emas, perak, perunggu, besi dan lain-lain), keramik/porselin, batu, kaca dan gerabah.

Kerusakan yang sering terjadi pada koleksi yang berbahan Organik berupa pelapukan, terserang hama (jamur, fungi, insect, rayap, tikus dan lain-lain), patah, retak, robek, perubahan warna(pudar). Sedangkan kerusakan pada koleksi berbahan An Organik berupa perkaratan (oksidasi), penggaraman, retak, pecah dsb.

Kegiatan konservasi koleksi merupakan suatu proses yang harus dilaksanakan secara sistematis melalui langkah-langkah / prosedur berikut ;

1. Pencatatan identitas koleksi yang akan di konservasi.

2. Pemeriksaan kondisi dan jenis kerusakan koleksi

3. Pendokumentasian koleksi sebelum proses konservasi.

4. Pelaksanaan tindakan konservasi yang meliputi, perawatan, pembersihan, restorasi, penguatan,         pengawetan, dan penyimpanan.

5. Pendokumentasian koleksi setelah proses konservasi.

6. Pengembalian koleksi.

7. Penginputan data koleksi ( pencatatan pelaksanaan konservasi ).

Dalam pelaksanaan kegiatan konservasi terhadap koleksi museum dilaksanakan dengan dua jenis metode , yaitu metode konservasi preventif dan metode konservasi kuratif. 



-  Metode Konservasi Preventif

Konservasi dengan metode Preventif merupakan tindakan pencegahan kerusakan koleksi dengan cara mengontrol penyebab kerusakan yang potensial terhadap koleksi museum. Pada konservasi preventif tindakan yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan koleksi dengan lingkungan dimana koleksi itu berada. Menjaga koleksi dari pengaruh faktor kerusakan koleksi, baik lingkungan makro (gedung dan ruangan) maupun lingkungan mikro (vitrin/lemari) koleksi.

- Metode Konservasi Kuratif

Konservasi dengan metode Kuratif dilaksanakan pada koleksi museum yang mengalami kerusakan dan terserang penyakit, pelapukan / kerusakan secara mekanis, fisis, khemis maupun biotis yang dilakukan apabila secara teknis memang diperlukan dan tidak ada alternatif lain yang dapat mengatasi permasalahan terhadap koleksi. Pada prinsipnya, jika tidak terdapat permasalahan teknis yang mengancam kondisi keterawatan koleksi, tindakan konservasi hanya dilakukan secara sederhana dengan menggunakan bahan dan cara tradisional tanpa bahan kimia.

Secara garis besar metode konservasi kuratif yang dilakukan terhadap koleksi yang mengalami kerusakan adalah tindakan perbaikan (restorasi), penguatan (konsolidasi), penetralan (stabilisasi) dan pengawetan (preservasi).

Teknik penanganan terhadap koleksi yang akan dikonservasi dapat dilakukan secara bertahap melalui beberapa tahap yaitu

- Pembersihan Kering

Tahapan ini bermaksud menangani koleksi dari akumulasi debu, kotoran, polutan dan benda-benda asing yang melekat pada koleksi. Penanganannya dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana.

- Pembersihan  Basah

Merupakan lanjutan proses konservasi kering terhadap koleksi dari akumulasi debu, kotoran, polutan membandel yang melekat pada koleksi apabila pada proses pembersihan kering tidak dapat ditangani. Penanganan lebih lanjut dengan menggunakan pelarut air murni/aquadest dan dengan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan.

- Pembersihan Kimiawi

Merawat dan melindungi koleksi museum yang terkena noda, lemak, korosi, penggaraman maupun pertumbuhan jasad renik. 

Penangananan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa bahan pelarut organik dan peralatan khusus (peralatan laboratorim).

Pada dasarnya kegiatan konservasi terhadap koleksi museum adalah suatu upaya perawatan, pemeliharaan, pengawetan dan pengamanan  yang perlu dilakukan secara rutin dan terus menerus diiringi dengan pengontrolan yang teratur dan berkala terhadap faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada koleksi museum maupun lingkungan museum. Tindakan konservasi tidaklah bersifat menghentikan secara total terhadap proses kerusakan koleksi, tetapi lebih bersifat menghambat dan mengendalikan agar koleksi memperpanjang usia koleksi sesuai pelestariannya dengan menggunakan prinsip intervensi seminimum mungkin. 



Lainnya