Beranda / Pameran Temporer / Aroma Memikat Dari Dapur Aceh 12-18 Oktober 2017

Aroma Memikat Dari Dapur Aceh 12-18 Oktober 2017



JALUR REMPAH

Jalur rempah adalah nama yang diberikan pada rute jaringan pelayaran yang menghubungkan Dunia Timur dengan Dunia Barat. Jalur rempah terbentang mulai dari sebelah barat-selatan Jepang menyambung dengan Kepulauan Nusantara (Indonesia) melewati selatan India ke laut Merah untuk melintasi daratan Arabia-Mesir terus memasuki Laut Tengah dan selatan Eropa.

Untuk membuat kronik lengkap tentang rute perdagangan rempah para penjelajah harus mengelilingi dunia. Dengan bantuan berbagai peta kuno, penuturan dan cerita para pengembara, buku panduan pelayaran lama, catatan muatan kapal, John Keay merekonstruksi pelayaran orang Mesir kuno, yang mempelopori perdagangan maritim rempah dari arah barat menuju ke timur dengan melintasi Semenanjung Arabia.

Masa puncak jalur rempah tercapai sejak kemunculan Islam dan kebangkitan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Mereka membangkitkan perdagangan melewati jalur rempah pada masa pra-Islam. Kemudian, sejak abad ke-7 dan 8 M, para pelayar dan pedagang Muslim dari Arabia berlayar ke pelabuhan-ibu kota Sriwijaya untuk membeli rempah. Para pelayar Romawi-Yunani yang menemukan rute perjalanan ke India dan Kepulauan Nusantara untuk mendapatkan lada (merica) dan jahe (ginger). Sepanjang jalur rempah ini, perdagangan berlangsung bebas (international free trade). 

Dengan berlakunya perdagangan bebas, muncullah masa yang disebut sejarawan Anthony Reid sebagai 'the age of commerce', masa kejayaan perdagangan di 'negeri bawah angin'. Rempah /spices berasal dari bahasa Latin spices yang berarti ‘barang yang memiliki nilai istimewa' atau bukan barang biasa. Tidak mengherankan kalau orang-orang berani menempuh perjalanan jauh ke Timur, ke Kepulauan Nusantara untuk mendapatkan spices yang mengandung banyak nilai ritual dan pengobatan serta eksotisme. Rempah hanya bisa tumbuh di kawasan tropis seperti nusantara. 

Pusat rempah-rempah di nusantara bukan hanya Maluku yang terkenal dengan cengkeh dan pala. Semenanjung Melayu juga menjadi magnet bangsa kolonial datang untuk mencari lada yang dalam bahasa lokal lebih dikenal dengan nama sahang. 

Selat Malaka adalah pusat perdagangan yang penting dan menjadi pelabuhan transit tempat para pedagang bertemu dari berbagai penjuru dan melakukan transaksi perdagangan sambil menunggu giliran datangnya angin musim timur laut dan barat daya yang akan membawa mereka ke tempat tujuannya masing-masing. Bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya kerajaan Samudera Pasai sejak abad ke-13, yang kemudian disusul Kerajaaan Malaka abad ke-15 dan Kerajaan Darussalam pada awal abad ke-16, para pedagang datang ke bandar-bandar kosmopolitan ini. 

Awal Abad ke-15 kebutuhan Eropa akan lada meningkat tiga kali lipat. Hal ini menyebabkan tanaman lada berkembang pesat di nusantara. Abad ke-17 lada merupakan satu-satunya produk paling cocok untuk Eropa. Dan pada akhirnya, rempah mengantarkan era dominasi bangsa Eropa di Dunia Timur, karena tujuan awalnya ingun mendapatkan rempah yanglebih murah kemudian meulai berangsur menjadi hasrat ingin menguasai daerah penghasil rempah dengan cara menjajahnya dan memonopoli terhadap hasil tanahnya.


Lainnya