Beranda / Pameran Temporer / Pameran Diplomasi Aceh 2009

Pameran Diplomasi Aceh 2009




Aceh, sepanjang abad ke-16 hingga awal abad ke-19, telah memiliki hubungan diplomatik yang luas: sesuatu yang jarang dimiliki oleh sebuah kerajaan kepulauan. Kelebihan inilah yang menyebabkan Belanda bukanlah satu-satunya tempat yang paling kaya untuk menemukan korespondensinya. Sementara kerajaan-kerajaan lain di wajibkan menandatangani keepakatan dengan VOC yang mengekang kebebasan diplomatis mereka untuk bernegosiasi dengan pihak lain, Aceh justru mempertahankan pihak ini hingga mas awal penaklukan Belanda pada tahun 1873-4. Utuhnya kedaulatan ini sungguh mengkhawatirkan para pembuat kebijakan di Hague. Pihak Hague senangtiasa was-was terhadap kemunculan kekuatan-kekuatan lain yang dapat membuyarkan perjanjian dengan Aceh hingga Belanda bisa saja terdepak. Kecemasan inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Belanda melakukan kesalahan besar dengan melakukan penyerbuan yang justru menuai bencana: dan tatkala menyerbu, merasa wajib untuk menerbitkan deklarasi resmi perihal perang yang dikomunikasikan kepada Kekuata-Kekuatan Dunia saat itu.

Pada eksibisi kali ini di sajikan pula koleksi-koleksi yang belum pernah di publikasikan atau dipertontonkan. Selain surat-surat penting dari beberapa bangsa pengguna bahasa Melayu (Malay-speaking World), surat-surat terawal dari para penguasa Asia Tenggara yang masih terjaga di berbagai penjuru dunia tak ketinggalan di pajang pula. Para Sultan Pasai dan Pidie saja sudah saling berkirim surat dengan bangsa portugis sejak awal tahun 1512 dan 1520, jauh sebelum Aceh mendominasi pantai utara Sumatera. Kebangkitan Aceh, salah satunya, dipicu oleh rasa ketidaksukaan banyak saudagar muslim dan saudagar lainya terhadap campur tangan Portugis pada urusan kerajaan mereka. Salah satu surat yang berbahasa Arab besar kemungkinan adalah teks asli. Sayangnya, dokumen yang lain hanya tersedia dalam terjemahan Portugis. Kendati demikian, hal itu memberikan sekilas pandangan kepada kita mengenai gaya penulisan surat diplomatis bangsa Indonesia.

Yang sedikit lebih kuno, dan bahkan kini kurang banyak di ketahui, adalah adanya pertukara-pertukaran diplomatik antara Sultan Alaud-din Riayat Syah al-kahhar (memerintah 1539-17) dan Sultan Turki Usmani di sepanjang 1566-8. Aliansi luar biasa ini, pertama-tama, merupakan hasil dari perdangan lada yang secara langsung menghubungkan Aceh ke Laut Merah untuk menyaingi kapal lada bangsa Portugis di sekitar Afrika. Aliansi ini juga dalam rangka menggalang kekuatan sekutu-sekutu kaum mislim guna melakukan perlawanan Militer/keagamaan menentang Portugis. Pada 1560-an, kontak-kontak diplomatik ini di balas Turki dengan mengirim beberapa meriambesarnya ke Aceh. Meriam-meriam itu kini di simpan sebagai “tanda-mata perang” di Museum Bronbeek Belanda, seperti halnya penembak dan ahli sejarah. Sewaktu Aceh terancam lagi pada abad ke-19, oleh Belanda, hubungan ini di kenang kedua belah pihak dan diperbaharui memalui permohonan lebih lanjut terhadap bantuan militer 1868-73.

Surat paling berharga dalam koleksi ini seharusnya adalah dari Raja Aceh yang paling berkuasa: Sultan iskandar Muda (memerintah 1607-36). Seturut penjelasan Dr. Gallop, surat yang di tujukan untuk Raja Inggris James-1 pada 1615 ini “berbahasa Melayu, dipenuhi hiasan, tertua, terindah. Dan, mengingat tingginya yang mencapai satu meter, menjadikan sebagai surat terbesar dan paling spektakuler.” Penulisan surat, alih-alih dimaksudkan sebagai sebuah peryataan kuat atas betapa pentingnya kesultanan Aceh sebagai sebuah kekuatan utama di dunia, pun mengandung hasrat untuk menunjukkan bahwa dirinya sejajar dengan para monarkh Samudera Hindia lainya yang menerima surat-surat itu,Mughal India, Siam, Turki, tak ubahnya seperti bangsa-bangsa Eropa.

Hingga kini, item-item dari abad ke-18 terbilang sedikit, sebagian dikarenakan kurangnya riset pada masa itu. Untungnya, Badan Arsip Nasional Denmark (Rigsarkivet) di kopenhagen masih menyimpan berbagai dokumen berbahasa melayu dan Arab dari Aceh yang tiada ternilai harganya, termasuk 21 surat kerajaan dari para sulta Aceh kepada Perusaan Hindia Timur milik Denmark di Tranquebar, sejak akhir abad ke-17 dan 18.

Pada abad ke-19, seirng dengan kian tajamnya kompetisi untuk mengontrol kawsan strategis Aceh, korespondensi diplomatikpun juga menjadi lebih tebal. Selain sejumlah surat lainya yang saling dipertukarkan dengan inggris dan Portugis pada era 1820-an, surat korespondensi dengan Turki pada tahun-tahun terakhir kedaulatan penuh Aceh pun turut dipajang dalam pemeran ini.