Beranda / Pameran Temporer / PAMERAN KERAJINAN TRADISIONAL ACEH 2010

PAMERAN KERAJINAN TRADISIONAL ACEH 2010


Pameran khusus atau lebih sering disebut dengan pameran temporer adalah pameran yang diselengggarakan setiap tahun dengan tema khusus di lingkungan museum dalam waktu tertentu dan singkat (temporary).

Salah satu produk budaya manusia yang masih dipakai sampai saat ini adalah kerajinan tradisional. Kategori kerajinan ini merupakan tradisi yang berkaitan dengan buatan tangan manusia yang dikerjakan sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Pada mulanya, manusia membuat kerajinan tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dari bahan-bahan alam yang dijumpai di sekelilingnya seperti kayu, bambu, batu, kulit, kayu dan sebagainya. Bentuk kerajinannya pun masih sangat sederhana. Pada akhirnya manusia menggantikan bahan-bahan tersebut dengan materi-materi yang lebih mudah didapat. Dapat dikatakan bahwa kerajinan tersebut lahir sebagai perwujudan dari ide, perasaan, keterampilan dan juga imajinasi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dilihat dari segi penggunaan maupun bentuknya, kerajinan tradisional mempunyai banyak ragamnya. Melalui proses pembuatan suatu kerajinan kita dapat melihat perkembangan kebudayaan suatu bangsa, baik melalui perkembangan teknik, seni pembuatannya atau makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, suatu kerajinan tradisional dapat mencerminkan kehidupan manusia yang memakainya.

Etnis Aceh merupakan salah satu komunitas besar di Nusantara yang mengasilkan kerajinan tradisional yang begitu beragam. Wilayahnya terletak paling barat dari negara Indonesia, tepatnya di bagian paling utara dari pulau Sumatra.
Secara geografis Provinsi Aceh terletak antara garis 2° - 6° LU dan 95°-98° BT. Bagian barat dari provinsi ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia (Lautan Hindia), bagian utara dan timur dengan Selat Malaka dan sebelah selatan dengan Provinsi Sumatra Utara. Dengan demikian, dilihat dari letak geografisnya, Provinsi Aceh merupakan pintu gerbang di bagian paling barat dari wilayah Republik Indonesia yang berhadapan langsung dengan negara-negara tetangga seperti India, Pakistan, Banglades, Sri Langka, Thailand, Malaysia dan Singapura. 


Di masa lalu, Aceh pernah menjadi daerah yang sangat strategis ditinjau dari segi perekonomian karena terletak di jalur perdagangan internasional yang meghubungkan antara India dan Tiongkok yang merupakan dua pusat kebudayaan kuno. Dalam perkembangan peradaban dan kebudayaannya, Aceh tidak terlepas dari pengaruh budaya Timur yang telah terserap kedalam berbagai sendi kehidupan masyarakatnya. Namun demikian, setelah Islam berkembang di wilayah ini pada sekitar abad ke 13 Masehi, masyarakatnya sangat dikenal dengan tradisi Islamnya yang kuat yang telah terintegrasi dengan baik ke dalam berbagai aktifitas lokal. 

Sebahagian ahli berpendapat bahwa Provinsi Aceh ini pada dasarnya didiami oleh 7 sub etnis yang masing-masing memiliki sistem budaya tersendiri. Ketujuh sistem budaya tersebut adalah sistem budaya Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuek Jamee, Kluet dan Simeulue. Oleh karena itu, akan sangat menarik untuk melihat bagaimana produk budaya dari masing-masing etnis tersebut ditampilkan.

Penting untuk diketahui bahwasanya terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara kerajinan tradisional dari satu etnis dengan etnis lainnya yang ada di Aceh. Walaupun Masyarakat yang mendiami wilayah "Serambi Mekkah" ini secara umum menganut ideologi yang sama, namun sistem budaya yang berkembang bisa saja berbeda sebagai akibat dari latar belakang sejarah dan kondisi geografis yang relatif berbeda pula. Konsekuensinya, hal ini telah memunculkan keragaman produk budaya yang ada di Aceh. Hasil karya masyarakat Aceh tersebut merupakan warisan budaya nasional yang perlu diungkapkan dan ditampilkan kembali untuk memperkaya khazanah budaya bangsa.

Kerajinan tradisional Aceh telah berkembang sejak lama namun sekarang sebagian hasil kerajinan tersebut telah mengalami berbagai modifikasi bahkan ada yang sudah tidak dipakai lagi sebagai akibat dari pengaruh budaya luar. Hal ini bisa berimbas pada hilangnya ciri khas dari koleksi-koleksi budaya tersebut. Lebih lanjut, kondisisi ini dapat menyebabkan makin menipisnya kebanggaan masyarakat lokal terhadap kebudayaan mereka sendiri. Kerajinan tradisional yang hampir hilang itu seakan-akan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya baik secara sadar maupun tanpa mereka sadari.

Sehubungan dengan hal tersebut, Museum Aceh, yang memiliki fungsi sebagai lembaga yang mengumpulkan, memelihara, mempublikasikan dan melestarikan berbagai jenis benda-benda budaya, khususnya yang berasal dari masyarakat Aceh, merasa perlu untuk menampilkan koleksi-koleksi kerajinan lokal kepada publik dengan harapan agar masyarakat lokal akan memiliki kesadaran untuk melestarikan kembali kerajinan tradisionalnya sebagai identitas daerah. 



Lainnya