Beranda / Pameran Temporer / Pameran Senjata Tradisional Aceh 2010

Pameran Senjata Tradisional Aceh 2010


Aceh yang terletak diujung utara Sumatera memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda. Letak wilayah Aceh yang strategis mempengaruhi sejarah dan seni budaya tradisional yang menjadi warisan budaya hingga saat ini. Salah satu warisan budaya yang masih terpelihara adalah senjata tradisional.

Senjata sudah mulai dikenal sejak manusia mulai berpikir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satunya berupa perkakas rumah tangga seperti pisau dan kapak genggam pada jaman batu tua (paleolitikum). Pada jaman batu muda (neolitikum) kemudian diolah lagi menjadi lebih tajam dan licin. Senjata
  digunakan untuk melukai atau menghancurkan suatu benda. Dalam berbagai situasi senjata berkembang menurut fungsinya. Seperti dalam keadaan yang mengancam senjata digunakan sebagai alat untuk menyerang atau mempertahankan diri. Dalam pola strategi pertahanan senjata juga diperlukan untuk kekuatan perang. Penggunaan senjata khususnya rencong sebagai alat senjata perang melawan Portugis mulai dipakai untuk pertama kalinya ketika Sultan Ali Mughayatsyah memerintah kerajaan Aceh pada akhir abad ke 16. Selanjutnya senjata perang yang digunakan sudah semakin sempurna dan canggih selain pedang sudah ditemukan juga senjata seperti  meriam dan pistol.

Pada situasi damai
  senjata difungsikan sebagai alat perlengkapan upacara  ataupun perhiasan yang dibuat secara tradisional  dan turun temurun, kemudian senjata berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna sesuai jamannya. Penggunaan senjata sebagai alat perlengkapan upacara adat Aceh seperti pada penobatan Raja, penggunaan sebagai perhiasan terdapat pada pakaian pengantin. Menurut cara penggunaannya senjata diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu : senjata api misalnya meriam, senjata  tusuk misalnya rencong, senjata tetak misalnya parang, dan senjata pakai misalnya azimat.