Beranda / Pameran Temporer / Pameran Tenun Tradisional Nusantara 2012

Pameran Tenun Tradisional Nusantara 2012



Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak zaman prasejarah Indonesia telah mengenal tenunan dengan corak tenunan yang memiliki desain yang  cukup rumit. Mereka telah mampu membuat alat-alat tenun serta mampu menciptakan desain tenun yang bagus. Pada masa itu mereka telah mampu menciptakan pakaian. Pada awalnya mereka membuat pakaian dari bahan-bahan alam di  sekelilingnya seperti dari daun kayu, kulit binatang, atau kulit kayu untuk melindungi tubuhnya dari gangguan cuaca, matahari, hujan, binatang dan benda-benda berbahaya. Sampai pada akhirnya mereka menggantikan bahan pakaiannya dengan bahan tenun. Dapat dikatakan bahwa tenun lahir sebagai bukti dari perwujudan ide, perasaan, keterampilan dan daya imajinasi manusia untuk memenuhi kebutuhan bahan pakaiannya.

Dra. Suwati Kartiwa, Msc dalam bukunya "Kain Songket Indonesia" merujuk pada pendapat Gittinger menyebutkan bahwa dalam catatan sejarah Cina tahun 518 SM disebutkan bahwa raja-raja dari bagian utara Sumatera telah menggunakan sutera sebagai pakaian yang diperkirakan hasil impor dari Cina, hingga munculnya kerajaan Sriwijaya. Bagi rakyat Cina kapas adalah benang yang sangat menarik, oleh karena itu tukar menukar kapas dan sutera telah terjadi sekitar abad ke VII sampai XV.

Demikian juga halnya dengan India, masuknya corak kain sutera pada  kalangan raja dan bangsawan menyebabkan impor benang sutera berkembang menjadi impor benang emas dan perak. Hal ini sangat mempengaruhi keanekaragaman corak tenunan yang dihasilkan.

Bagi bangsa Indonesia keanekaragaman hasil tenun yang ditimbulkan oleh adat istiadat setempat, pandangan hidup, penilaian simbolis terhadap benda-benda alam, serta sentuhan budaya asing yang beranekaragam telah memperkaya khasanah tenun sebagai bagian dari budaya bangsa.

Tenunan tradisional nusantara  merupakan salah satu identitas kebudayaan suatu daerah, karena setiap suku bangsa atau kelompok etnis dan sub etnis mengembangkan keterampilan membuat tenun sesuai dengan perkembangan  kebudayaan masing-masing. Ciri lokal yang  tercermin pada corak warna, ragam hias, atau motif  bahkan makna simbolis yang terkandung di dalamnya  merupakan hasil budaya nasional yang perlu dikembangkan menjadi warisan dan ditampilkan kembali sebagai kekayaan khasanah budaya bangsa.

Tenunan ditinjau dari segi teknologi pembuatannya dapat dibagi menjadi tenun ikat, lungsi, ikat ganda, dan songket. Keanekaragaman teknik bertenun tersebut berangkat dari kultur etnik masing-masing serta latar belakang historis dari suatu daerah. Meskipun dalam penggunaan istilah atau penamaannya berbeda, tetapi sesungguhnya pada dasarnya budaya menenun  terdapat di seluruh pelosok nusantara dan paralataan yang digunakan pun memiliki kesamaan. Masing-masing daerah mempunyai tenunan dengan nama yang khas, selain motifnya yang berbeda tenunan tersebut juga mempunyai fungsi dan nilai yang berbeda pula.

Sangatlah disayangkan akibat pengaruh kebudayaan luar dan modernisasi menyebabkan semakin menipisnya kebanggaan generasi muda pada budayanya sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut tenunan tradisional yang sudah hampir punah itu  semakin ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, Museum Aceh akan mengadakan kegiatan  pameran "Tenun Tradisional Nusantara" agar warisan budaya bangsa itu dapat dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat terutama generasi muda guna mendorong dilestarikan dan dikembangkannya kembali tenun tradisional sebagai identitas daerah dan khazanah nusantara.