Beranda / Penelitian / Tenun Koleksi Museum Aceh

Tenun Koleksi Museum Aceh


Tenun menjadi menarik ketika kita membaca sejarah panjang perdagangan nusantara, tenun juga mampu menjadi sebuah misteri ketika kita mengamati ''goresan-goresan'' motifnya, dan tenun menjadi unik ketika tenun mampu menjadi pembeda strata dalam sebuah masyarakat. Informasi-informasi dari tenun tersebut coba kami paparkan dalam hasil penelitian terhadap koleksi-koleksi tenun yang dimiliki oleh museum Aceh. Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu mengukur sejauh mana koleksi tenun di museum Aceh dapat memberikan data atau informasi kepada masyarakat.

RAGAM HIAS DAN MAKNA RAGAM HIAS TENUN ACEH 

Islam yang diajarkan dan diamalkan di Aceh telah menentukan bentuk, arah dan perkembangan ragam hias atau ornamentasi utama di daerah ini. Bentuk ragam hias utama di daerah berjuluk Serambi Mekkah ini merupakan visualisasi, aktualisasi atau representasi tetumbuhan, benda, gerak alam dan bidang geometri yang diterapkan dengan teknik tertentu pada berbagai media mulai dari batu hingga bahan tekstil di samping kaligrafi berisi kutipan al-Qur'an atau penanda tertulis pada objek tertentu.

Pilihan mengadaptasi rupa tetumbuhan, benda dan gerak alam untuk ornamentasi itu berkaitan dengan pantangan melakukan rekabentuk rupa manusia dan binatang. Pantangan ini ditanamkan pada setiap diri dan keluarga Aceh dengan mengukuhkan konstruksi hadits bahwa ''malaikat tidak akan memasuki rumah-rumah yang di dalamnya terdapat berhala dan anjing''. Inilah sebab mengapa penggambaran wujud manusia dan binatang tidak berkembang seperti ornamen yang mengadaptasi tetumbuhan.

Namun meskipun ragam hias berkembang sedemikian rupa, Aceh punya pengalaman sendiri berkenaan dengan penggambaran manusia dan/atau binatang. Penggambaran manusia dan/atau binatang masih tetap dilakukan meskipun secara simbolik dan terbatas. Ukiran atau gambar bouraq; mahluk hibrid yang menjadi tunggangan nabi Muhammad SAW selama Isra' Mi'raj misalnya, sejak lama menghiasi dinding rabung rumah-rumah panggung Aceh di masa lalu melengkapi gambar atau ukiran ornamental yang dinamis.


Motif
bungong kalimah (kaligrafi) pada kain panjang yang berfungsi sebagai selendang/penutup kepala wanita Aceh berisi kalimah Allah yang ditempatkan di bagian ujung kain dan ketika dipakai bagian ujung kain yang ada motif bungong kalimah diletakkan di atas kepala. Penempatan motif bungong kalimah di bagian kepala berkaitan erat dengan konsep yang berkembang dalam masyarakat Aceh bahwa kalimah Allah harus ditempatkan di posisi yang tinggi.

Selain motif bungong kalimah, motif yang sering digunakan dalam seni menenun adalah motif bunga delima. Pemilihan motif bunga delima sebagai motif hias dilandasi kepada konsep buah yang disebutkan dalam Al-Qu’ran bahwa buah delima adalah salah satu jenis buah yang terdapat di dalam surga. Selain bunga delima, pada tenun yang beredar dalam masyarakat Gayo/Alas terdapat motif tampuk manggis/mongeute. Pemilihan buah manggis sebagai motif hias kain tenun masyarakat Gayo/ Alas menggambarkan kondisi lingkungan setempat yang subur. Buah manggis yang dikenal sebagai ratu buah juga mengandung anti oksidan yang tinggi dan buah manggis merupakan jenis buah yang sulit dibudi dayakan, sehingga mungkin ini yang menjadi salah satu alasan pemilihan tampuk manggis sebagai motif hias sebagai apresiasi masyarakat Gayo/Alas terhadap buah manggis. Dan hasil penelitian ilmiah diketahui bahwa buah delimah dan buah manggis memiliki manfaat serta anti oksidan tinggi.

Khusus dalam masyarakat Gayo/Alas, muncul motif hias tuleng iken/tulang ikan dan peger/pagar. Penggambaran motif tulang ikan pada kain tenun Gayo/Alas merupakan penggambaran dari ikan depik yang menjadi ikan khas di Gayo/Alas. Peger/ pagar melambangkan perlindungan, selembar kain akan melindungi pemakainya dari rasa malu karena kain akan menutup aurat pemakainya.


Pohon hayat yang menjadi ciri khas  tenun Siem serta yang terdapat pada kain tenun ija dua blah hah melambangkan kehidupan dan harapan. Dalam masyarakat Aceh tempo dulu, selembar kain yang disandang oleh pemakainya  mengandung harapan akan kehidupan dan rezeki yang lebih baik.

Motif lain yang muncul dalam kain tenun yang menjadi koleksi museum Aceh adalah motif daun sirih. Batang sirih yang bersifat merambat melambangkan  kehidupan yang terus meningkat. Selain itu, dalam kehidupan masyarakat Nusantara, daun sirih digunakan sebagai pelengkap upacara ketika menerima tamu.

Kain tenun Aceh maupun Melayu identik dengan motif awan, baik awan tunggal mau pun awan berarak. Pemilihan motif awan selain menggambarkan cuaca di Sumatera yang cerah juga melambangkan kehidupan masyarakat yang dinamis.


Selain bunga, buah, dan pohon yang mengandung makna filosofis, sebagian motif hias dibuat hanya semata sebagai hiasan saja misal motif bungong campli/bunga cabai, bunga tabur, dan motif geometris yang dipakai untuk memenuhi bidang hias dan menambah nilai estetis dari kain tenun tersebut.


Lainnya